Perfeksionis – Gen Z jangan terlalu keras pada diri sendiri

Perfeksionis – Gen Z jangan terlalu keras pada diri sendiri

 

Tanpa sadar Gen Z menjadi perfeksionis dan terlalu keras pada diri sendiri

Di tengah persaingan karir dan juga berkarya di dunia digital apalagi sosmed dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang menganggap perfeksionisme sebagai sesuatu yang positif, tapi perfeksionis juga bias memiliki kecenderungan standar yang tinggi loh terhadap diri sendiri dan berusaha untuk mencapai hasil yang sempurna dalam setiap hal yang mereka lakukan, gak jarang ini biasanya yang bikin kita tiap malam merasa OT (over thinking)

Namun, menjadi perfeksionis juga memiliki sisi negatif yang perlu diperhatikan. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi baik dan buruk menjadi perfeksionis.

1. Di satu sisi, menjadi perfeksionis memiliki beberapa keuntungan.

Mereka cenderung memiliki kualitas kerja yang tinggi dan selalu berusaha untuk memberikan hasil terbaik. Perfeksionis adalah orang-orang yang detail-oriented, mereka memperhatikan setiap aspek dan tidak tinggal diam sampai semuanya terlihat sempurna.

Mereka juga cenderung berdedikasi dan gigih dalam mencapai tujuan mereka. Kualitas ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, baik dalam karier maupun kehidupan pribadi.

2. Menjadi perfeksionis juga dapat memiliki sisi negatif.

Salah satu hal yang sering terjadi adalah terjebak dalam siklus ketidakpuasan diri. Perfeksionis sering mengalami kecemasan berlebihan dan merasa tidak pernah cukup baik. Mereka terus-menerus membandingkan diri mereka dengan orang lain dan berusaha untuk mencapai standar yang tidak realistis. Hal ini dapat mengakibatkan tekanan tinggi dan stres yang berlebihan.

3. Perfeksionisme juga dapat menghambat produktivitas.

Karena mereka terlalu fokus pada detail dan hasil yang sempurna, perfeksionis seringkali kesulitan untuk menyelesaikan tugas dengan cepat. Mereka dapat terjebak dalam perbaikan yang berkepanjangan, bahkan untuk hal-hal kecil.

Akibatnya, waktu dan energi terbuang tanpa hasil yang signifikan. Perfeksionis juga cenderung terlalu kritis terhadap diri sendiri dan orang lain, sehingga sulit untuk menerima kegagalan atau kesalahan.

4. Menjadi perfeksionis juga dapat mempengaruhi hubungan sosial.

Perfeksionis seringkali memiliki harapan yang tinggi terhadap orang lain dan cenderung tidak toleran terhadap kekurangan. Mereka bisa menjadi sulit bekerja sama dalam tim dan seringkali mengalami konflik interpersonal.

Perfeksionis juga sering mengalami kesulitan dalam menerima bantuan dari orang lain, karena mereka merasa bahwa hanya mereka yang mampu melakukan sesuatu dengan sempurna.

Namun, penting untuk diingat bahwa perfeksionisme juga dapat dikendalikan dan dimoderasi.

5. Berikut adalah beberapa tips untuk mengelola sifat perfeksionis:

Tetapkan standar yang realistis:

Sadari bahwa sempurna tidak ada dan tidak semua hal harus sempurna. Tetapkan standar yang dapat dicapai dan terima bahwa kegagalan atau kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

Fokus pada proses, bukan hanya hasil:

Alihkan perhatian dari hasil akhir ke proses yang ada di antara. Nikmati proses dan pelajari dari setiap pengalaman, bukan hanya fokus pada hasil akhir yang sempurna.

Terima dan belajar dari kegagalan:

Jangan terlalu keras pada diri sendiri ketika menghadapi kegagalan. Lihatlah kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh, bukan sebagai tanda kelemahan.

Jaga keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi:

Berikan waktu untuk bersantai dan mengisi energi. Jaga keseimbangan antara tuntutan kerja dan kehidupan pribadi untuk mencegah kelelahan dan kelelahan yang berlebihan.

Carilah suport dan dukungan dari circle atau orang-orang terdekatmu:

Jangan ragu untuk mencari dukungan dari orang-orang terdekat kamu. Berbicara dengan orang yang kamu percaya dapat membantu kamu mendapatkan perspektif yang lebih seimbang dan mengurangi tekanan.

Dalam kesimpulannya, menjadi perfeksionisme memiliki kelebihan dan kekurangan. Sementara perfeksionisme dapat mendorong pencapaian yang tinggi, terlalu banyak perfeksionisme dapat menyebabkan tekanan dan kesulitan dalam menerima kegagalan.

Penting untuk memahami bahwa sempurna tidak ada dan mengelola sifat perfeksionis dengan bijak. Dengan mengenali kelebihan dan kekurangan menjadi perfeksionis, kita dapat mengoptimalkan potensi kita dan hidup yang lebih seimbang dan memuaskan.

Sumber referensi : hellosehat.com

Founder & CEO

Agar tidak malu, memulai dari bukan siapa-siapa, tetap jadi bukan siapa-siapa, dan ketika jatuh pun tetap jadi aku yg bukan siapa-siapa.

Leave a Reply

You might also like